Epik Theater V : Taraksa

2013-04-03_23-12-04_NIGHT

Bagi saya, teater ini merupakan nostalgia hobi terpendam saya yang sudah lama tidak tersentuh dan tereksplor semenjak penampilan terakhir saya pada teater Epik pertama pada tahun pertama saya berkuliah. Kerinduan itu membuat saya menggebu dan antusias untuk menghadiri pementasan Epik kali ini. Perasaan bangga dan sesal pun bercampur aduk, rasa bangga akan pencapaian team Epik yang sudah menempuh sejauh ini hingga dapat menyuguhkan teater di panggung teater publik yang sesungguhnya beriringan dengan penyesalan akan ketidak sertaan dan lepasnya kontribusi yang lebih besar selama usaha team teater Epik untuk bisa mencapai pencapaian mereka saat ini. Sebuah hikmah dan pembelajaran yang besar bagi saya.

Teater Epik ini adalah hasil prakarsa senior saya di SBM yang berani tampil, berkespresi, dan bergerak berbeda dari kelaziman. Para penggagas kegiatan ini pun bukan orang biasa, seperti Sutansyah Marahakim dan Tri Adi Pasha, keduanya merupakan mahasiswa yang memiliki figur panutan dengan intelektual dan prestasi yang tidak bisa diragukan lagi. Dan kali ini, mereka hadir kembali dengan keberanian untuk mencoba memberikan warna baru pada cakrawala seni pertunjukan di Bandung, yang melibatkan mahasiswa-mahasiswi lintas universitas dari ITB, UNPAR, ITENAS, UNISBA, UNPAD, UPI, IT Telkom, juga siswa-siswi lintas sekolah dari SMAN 1, SMAN 15, dan SMAN 19 Bandung. Tema utama yang diusung kali ini adalah fantasi, dimana teater kali ini-disamping dikemas dalam balutan teater musikal-juga berupaya untuk memaksimalkan penampilan artistik yang apik.

Kisah yang disajikan dalam penampilan teater kelima ini adalah mengenai Taraksa, seorang pria dari suku Ahimsa, yang pada dasarnya  ia jatuh cinta dengan seorang wanita bernama Chiandra yang mengajaknya berdansa di suatu perayaan suku. Sayangnya, ajakan dansa Chiandra tersebut ia tolak, dan tak lama setelahnya, Chiandra dijadikan persembahan sukarela untuk Kerajaan Bulan yang disembah suku mereka. Taraksa yang menyesal pun akhirnya pergi mengejar cintanya. Selama perjalanannya itu, ia harus pergi melewati lapisan-lapisan langit dan menghadapi berbagai peristiwa yang harus ia tempuh agar bisa menemui pujaan hati. Namun sayang, ketika pada akhirnya mereka bertemu, Chiandra tak dapat dibawanya kembali ke dunia asal mereka.

Saat saya menginjakkan kaki pertama saya di Dago Tea House pada pukul 19.00 untuk menyaksikan penampilan kedua teater ini pada tanggal 26 Februari lalu, saya cukup lega. Awalnya saya melihat jadwal bahwa penampilan akan dimulai tepat pada pukul 19.00 wib, namun kenyataannya, acara dimulai kurang lebih 20 menit setelah pukul tujuh tersebut. Saat tiba di loket pun antriannya tidak terlalu ramai, dan ternyata masih ada banyak orang yang datang lebih terlambat yang menyebabkan start penampilan Taraksa ini (mungkin) diundur. Saat teater mulai berjalan, satu hal yang saya sayangkan mengenai pemilihan seat saya, ternyata ada seat yang diberikan lilin yang nantinya dinyalakan untuk satu momen saat pertunjukan dan hal ini tak saya ketahui saat pemilihan seat saya sebelumnya, what a pity. Namun, pertunjukan dengan kombinasi properti, kostum, make up, musik, acting, dan pencahayaan yang apik menyita perhatian saya dan penonton lainnya selama pertunjukan tersebut berlangsung. Sajian yang tidak hanya menyuguhkan cerita romansa dan thrilling tetapi juga komedi ini memang patut dijadikan acuan standar yang baik bagi teater selanjutnya di Bandung. Tidak hanya itu, teater ini juga memiliki potensi untuk menumbuhkan minat dan pengetahuan masyarakat awam akan jenis seni pertunjukan yang satu ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s